Polres Demak Ungkap Peredaran Obat Terlarang

Rabu, 17 Juni 2020
DEMAK - Satreskrim Polres Demak amankan dua orang yang terlibat kasus peredaran obat terlarang.
Dua tersangka berhasil diamankan, atas nama MC (30) warga Lamper Lor Semarang Selatan, dan AS (48) beralamat di Kecamatan Mranggen Demak.

Dari keduanya petugas mengamankan
barang bukti sebanyak 115.000 butir obat dari berbagai jenis, diantaranya Hexymer, Trihexyphenidyl dan Dextromethorpan. Dan obat – obatan itu tanpa izin edar.

Kapolres Demak AKBP R. Fidelis Purna Timoranto, seperti dikutip dari situs resmi Polda Jateng mengatakan, kedua tersangka mengedarkan obat obat tersebut dalam paket plastik klip, dan dijual secara bebas di wilayah Kecamatan Mranggen dan tidak dibatasi jumlah pembelian.

“Berbagai macam obat-obatan itu diperoleh tersangka dari seseorang yang dikenal dari media online dan saat  yang masih dalam penyelidikan.  Adapun transaksi pembayaran melalui
transfer rekening dan obat – obatan tersebut dikirim melalui jasa ekspedisi,” papar AKBP Fidelis.

Kapolres Fidelis menambahkan , para pembeli obat – obatan tersebut mayoritas remaja berumur belasan tahun. Menurut pengakuan tersangka , obat itu digunakan untuk mendapat sensasi fly (tenang) apabila diminum melebihi dosis.

Berdasarkan catatan kepolisian, dari beberapa pelaku kejahatan begal, pengeroyokan dan kejahatan jalanan lain, para pelaku menggunakan obat obatan jenis tersebut untuk menambah mental dan keberanian sebelum melakukan aksinya.

Sementara itu Kasatreskrim Polres Demak AKP Muhammad Fachrur Rozi menambahkan, dari hasil penyidikan tersangka sudah mengedarkan obat – obatan tanpa ijin tersebut selama kurang lebih dua bulan.
Mereka berhasil ditangkap setelah adanya informasi dari masyarakat.

“Saat ini berbagai jenis obat – obatan tersebut sedang dilakukan pemeriksaan di Labfor Semarang dan kedua tersangka ditahan di Rutan Polres Demak dengan SOP pencegahan Covid-19 ,” kata AKP Rozi.

Guna mempertanggungjawabkan perbuatannya, kedua tersangka dijerat Pasal 196 atau pasal 198 UU RI Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.

“Ancaman pidananya maksimal 15 tahun penjara dan denda Rp 1,5 Milyar,” tandasnya.
Share this Article