Cerita Misteri di Balik Keindahan Gunung Lawu, Mulai Keberadaan Pasar Setan Hingga Persinggahan Terakhir Brawijaya V

Minggu, 28 Juni 2020
KARANGANYAR - Jalur pendakian ke puncak Gunung Lawu resmi dibuka. Hanya saja, untuk jalur kepuncak melalui Cemoro Kandang belum resmi dibuka.

Sehingga satu-satunya jalur menuju ke puncak Gunung yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur, selain Cemoro Sewu, adalah melalui Candi Cetho.

Berbeda dengan kedua jalur ke puncak Gunung yang dahulunya bernama Wukirmahendra ini, jalur yang melintasi Candi Centho ini memiliki medan cukup sulit dibandingkan jalur Cemoro Kandang dan Cemoro Sewu.

Perlintasan kepuncak yang berbeda dengan kedua jalur biasa yang dilalui para pendaki untuk menggapai puncak Gunung yang memiliki ketinggian 3.265 mdlp, kearifan lokal di jalur ini cukup kental.

Banyaknya kisah misteri terselubung di gunung yang dijuluki Gunung seribu satu kisah ini. Termasuk jalur Cetho yang ternyata bila diibaratkan rumah, Gunung yang  dijuluki pakunya pulau Jawa jnj merupakan bagian depan atau pintu masuk ke Gunung Lawu.

Sesepuh Desa Girimulyo, Ngargoyoso,  Karanganyar, Polet atau biasa disapa Mbah PO mengatakan, selama ini banyak yang salah kaprah menyangkut
bagian depan atau pintu masuk ke Gunung Lawu.

Jalur pendakian Cemoro Kandang yang terletak di daerah Blumbang,
Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah dan Cemoro Sewu di daerah
Magetan, Jawa Timur selama ini kerap dianggap bagian depan atau pintu
masuk utama menuju kepuncak Gunung Lawu.

Namun, anggapan itu, ungkap Mbah PO, salah besar. Pintu masuk utama ke
puncak Gunung Lawu bukanlah Cemoro Kandang atau Cemoro Sewu.

Justru kedua tempat yang selama ini dijadikan jalur masuk pendakian kepuncak Gunung Lawu itu sebenarnya merupakan bagian belakang dari Gunung Lawu.

"Bila (Gunung Lawu) diibaratkan sebuah rumah, Cemoro Kandang dan
Cemoro Sewu itu bukan pintu masuk kedalam rumah. Tapi, Cemoro Kandang
dan Cemoro Sewu itu bagian belakang atau bagian dapur dari sebuah
rumah itu. Pintu masuk utama ke Gunung Lawu itu diatas Candi
Cetho, Jenawi,' papar Mbah PO pada beritajateng.id, Sabtu (27/6/2020).

Menurut Mbah PO, bagi masyarakat Karanganyar maupun yang sering
melakukan spiritual di Gunung Lawu, mereka mempercayai bila Gunung
Lawu itu merupakan sebuah kerajaan besar yang pernah ada.

Tak heran bila para pendaki naik ke Gunung Lawu melalui jalur Candi Cetho, akan menemukan hal-hal gaib.

Tak heran, bila jalur Candi Cetho merupakan jalur yang paling
ditakuti.

Pasalnya, meski jalur ini merupakan jalur paling cepat dibandingkan bila melalui dua jalur Cemoro Kandang
atau Cemoro Sewu, namun jalur perlintasan Candi Cetho ini merupakan jalur paling berbahaya.

Sebab, begitu pendaki mulai melakukan pendakian ke puncak Gunung Lawu, mereka sudah dihadapkan dengan tanjakan terjal serta jurang yang cukup curam.

"Bila lengah sedikit saja, bisa terjatuh kedalam jurang,"jelas Mbah PO

Tak hanya medan yang sulit, jalur pendakian melalui Candi Cetho ini
paling sering terkena kabut.

Pasalnya jalur Candi cetho ini lebih
didominasi cekungan-cekungan. Bila baru pertama kali mendaki melalui
jalur ini, sudah dipastikan pendaki tersebut akan tersesat.

Selain memiliki medan yang sangat sulit, jalur pendakian Gunung Lawu
melalui candi Cetho ini, banyak dipercaya sebagai jalur perlintasan ke
alam gaib. Tak heran bila melalui jalur ini, para pendaki sudah
dihadapkan dengan hal-hal aneh.

Termasuk para pendaki akan melalui sebuah lokasi dilereng Gunung Lawu
yang diyakini merupakan keberadaan dari pasar setan.

Bagi yang sering mendaki ke puncak Gunung Lawu, tentu sudah tak asing mendengar nama pasar setan.

Dimana konon ditempat itu sering terdengar suara bising layaknya
sebuah pasar.

Terkadang, para pendaki itu sendiri akan mendengar suara
yang seakan menawari untuk berbelanja. Konon bila mendengar suara tersebut, para pendaki harus membuang apa saja dilokasi tersebut
layaknya transaksi jual beli dipasar.

"Sebenarnya yang disebut para pendaki itu sebagai pasar setan,
sebenarnya itu sebuah lahan di lereng Gunung Lawu yang penuh dengan
ilalang dan angin yang berhembus di sana cukup kencag. Jadi akibat
tiupan angin, menimbulkan suara-suara seperti orang bertransaksi,"terangnya.

Tak hanya itu saja, banyak yang menduga Kalau Gunung Lawu ini masuk katagori Gunung tidak aktif.

Namun sebenarnya Gunung Lawu masuk dalam kategori 'gunung
tidur'. Dan Gunung Lawu masuk deretan lima besar dari tujuh Gunung dengan puncak tertinggi di Pulau Jawa. Tak heran bila Gunung Lawu dijuluki Seven Summits of Java (Tujuh Puncak Pulau Jawa).

"Sampai saat ini jati diri (Misteri) Gunung Lawu belum terungkap. Contoh yang paling nyata sampai
sekarang tidak pernah ditemukan kuburan eyang Lawu & Sunan Lawu,"
jelasnya.

Selain kental dengan aura mistik, gunung Lawu tetap menjadi primadona
bagi para pendaki. Bahkan gunung Lawu terkenal dengan penunggu
sekaligus penunjuk jalan seekor burung misterius, bernama Kyai Jalak
Lawu.

Konon Kyai Jalak adalah salah satu jelmaan dari abdi dalem setia Prabu
Brawijaya V yang bertugas untuk menjaga Gunung Lawu. Biasanya burung jalak Lawu berwarna hitam. Namun khusus burung misterius yang terkenal dengan nama Kyai Jalak ini berwarna gading.

Sayangnya sangat sulit sekali menemukan atau bertemu dengan Jalak Lawu ini. Jalak Lawu ini akan muncul dihadapan pendaki yang tersesat. Karena bagi para pendaki bertemu dengan Jalak Lawu, pantangan untuk diganggu.

"Namun jika berniat baik, kyai Jalak akan mengantar pendaki sampai ke
Puncak Gunung Lawu. Kyai Jalak bertemu  para pendaki, bukan untuk
mencelakai, namun sebagian dari tugasnya  menjaga dan menjadi penunjuk jalan bagi para pendaki," terangnya.

Selain Kyai Jalak sebagai penunjuk jalan, kadang kala juga muncul
kupu-kupu berwarna hitam, namun di tengah kedua sayapnya terdapat
bulatan besar berwarna biru mengkilap.

"Katanya jika melakukan pendakian, melihat kupu-kupu dengan ciri
seperti itu adalah pertanda bahwa  kehadiran pendaki  disambut baik
(diijinkan) oleh penjaga Gunung Lawu.  Jangan pernah  menganggu,
mengusir dan membunuhnya," ungkapnya.

Dan yang paling penting adalah pantangan mengenakan baju berwarna
hijau daun, dan dilarang mendaki puncak lawu dengan rombongan yang
berjumlah ganjil.

“Jangan naik puncak jika jumlah pendakinya ganjil,takutnya nanti akan
tertimpa kesialan. Satu hal lagi yang harus diingat, jika tiba-tiba
ada  ampak-ampak (kabut dingin) yang di barengi suara gemuruh, jangan
nekat naik.  Turun saja atau berbaring tertelungkup di tanah," pesannya.

Gunung Lawu juga menyimpan misteri pada tiga puncaknya dan menjadi
tempat yang dianggap sakral di Tanah Jawa. Harga Dalem diyakini
sebagai tempat pamoksan (menghilangnya) Prabu Brawijaya,

Harga Dumiling diceritakan sebagai tempat pamoksan Ki Sabdopalon yang
merupakan abdi setia dari Prabu Brawijaya, dan Harga Dumilah merupakan tempat yang meditasi pagi penganut kejawen.

Sebab itulah gunung yang juga merupakan salah satu poros di pulau Jawa ini dipercaya persinggahan Brawijaya V yang merupakan Raja Majapahit terakhir yang akhirnya menghilang bersama raganya alias muksa.

Bagi para pendaki, keangkeran Gunung Lawu sudah makanan setiap hari.
Para relawan ini sangat akrab dengan keangkeran.

Tak heran banyak para pendaki Gunung Lawu yang tiba-tiba kesurupan. Bahkan para relawan pun sering diganggu saat melakukan operasi penyelamatan.

"Gangguan saat evakuasi pendaki sakit. Pada saat kita memikul survivor
pakai tandu serasa ada yg bonceng jadi terasa sangat berat. Dan tim
kami sering melihat sosok makhluk halus perempuan,"papar Rifan salah satu relawan dari Karanganyar Emergency. (Uky/Aan)


Share this Article