Dana Riset Indonesia Paling Rendah di Asia, Kemenristekdikti Dorong Peneliti Berkolaborasi Internasional

Selasa, 10 September 2019
SOLO - Terbatasnya dana riset yang diberikan oleh pemerintah, mendorong Kemenristedikti menggelar Workshop bekerja sama dengan Ristekdikti, LPDP, DIPI (dana ilmu pengetahuan Indonesia) bertema Peningkatan Kualitas Proposal Penelitian dalam Pengajuan Dana Penelitian Internasional.

Termasuk mengundang beberapa narasumber dari beberapa partner Ristekdikti yang selama ini bekerja sama yakni UK Newton Fund dari Inggris, dari Belanda dan juga Indonesia Perancis Nusantara.

Direktur Riset dan Pengabdian Pada Masyarakat Ocky Karna Radjasa mengatakan ada beberapa pertimbangan kenapa workshop untuk kerjasama internasional yang kebetulan bekerja sama dengan UNS dilaksanakan.

Yang pertama adalah satu karena terkait dengan keterbatasan dana riset.

"Workshop ini bertujuan untuk memberikan informasi lengkap tentang detil daripada skema proposal yang ditawarkan yang kedua adalah tips-tips atau strategi agar proposal itu bisa lolos pendanaan internasional," jelas Occky Radjasa, Senin (9/9/2019).

Disampaikan tadi oleh bahwa kontribusi riset secara nasional hanya 0,25% per PDB dan itu paling rendah di Asean. Korea Selatan 4, 3%, Jepang 2,5 persen, Amerika 2 persen. Kemudian negara Jiran itu 1% (Malaysia).

Menurutnya tidak mungkin anggaran yang hanya 1,4 T untuk satu tahun itu digunakan untuk mendanai riset untuk 297. 000 dosen yang berada di 3250 perguruan tinggi.

Misalnya saja di tahun ini pihaknya menerima proposal penelitian ada 24.000 proposal. Dan kemungkinan yang bisa didanai hanya 6000 proposal untuk pendanaan tahun 2020.

"Itu menunjukkan dana riset sangat terbatas. Dan kita perlu bekerja sama dengan partner dari luar negeri, selain karena (mereka) punya peralatan yang jauh lebih lengkap dan bagus daripada kita. Dan tidak kalah penting punya networking atau link dengan jurnal jurnal yang bereputasi," imbuhnya.

Dan pihaknya juga mencatat kerjasama internasional tahun 2018 itu sekitar 540 M dana itu udah dibawa masuk oleh partner luar negeri.

Kemudian juga dari segi publikasi itu juga terjadi peningkatan kualitas dari jurnal yang tadinya level Q4 menjadi level Q2 atau Q1. Itu adalah dampak dari dari kerjasama itu.

"Tidak kalah penting juga akses rata-rata teman-teman bisa melakukan penelitian dengan hasil yang baik karena punya akses dengan patner luar negeri yang alatnya lebih lengkap," imbuhnya.

Dengan mendapatkan langsung detail dan tips yang akan diberikan oleh mereka yang sudah mendapatkan dana pihaknya berharap betul agar kualitas poropsal akan meningkat sehingga nanti kesempatan yang didanai akan semakin tinggi.

Sementara Sekretaris LPPM, Samsul Hadi menambahkan UNS sendiri, meski dana terbatas tetap mendorong para peneliti (UNS) untuk berani membuat kolaborasi internasional. Dengan banyaknya skema-skema bantuan dari DRPM nanti.

Kami sudah mulia mendata (maping) hasil-hasil penelitian nanti akan kita coba arahkan peneliti-peneliti itu untuk mengambil skema-skema yang ada di prioritas riset nasional. "Nanti kita arahkan pendanaan ke sana," jelasnya.

Pihaknya juga berharap para peneliti dari UNS juga proaktif, nantinya mereka yang sudah mumpuni yang ada di beberapa fakultas yang indeks kinerjanya bagus kita arahkan untuk ke kerjasama dengan luar negeri.Masuk riset-riset yang sesuai dengan tema.

"Dan untuk yang belum itu nanti akan kita arahkan untuk penelitian internal kita sendiri. Karena UNS juga ada dana untuk penelitian internal," pungkasnya. (Her/Tyo)
Share this Article